Puisi Romantis dalam Kamar di Rumah Kayu

Januari 18, 2010 at 13:51 , by hes

Dulu saya percaya bahwa sebuah pernikahan adalah akhir yang bahagia. Tapi kemudian dalam perjalanan hidup, saya menemukan bahwa pernikahan justru adalah awalnya.

Puisi berjudul Terbang ke Kahyangan: Mimpi atau Nyata dalam bab terakhir di Senandung Cinta dari Rumah Kayu, Kamar, menjelaskan tentang itu.

Bait pertama puisi itu menyebutkan tentang puisi yang ditulis Chairi Anwar. Sebuah puisi cinta tentang mimpi pasangan muda, rumah sederhana dan bahagia. Rumah tempat mereka menabur semua impian dan harapan. Rumah tempat menangis dan tertawa. Rumah penampung kenangan.

Suami yang baru saja menikah dan
mengajak istrinya
tinggal di rumah kayu nan
damai itu

menutup bukunya

Setelah selsai membaca puisi yang
ditulis oleh Chairil Anwar bertahun
silam.

TAMAN

Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia

Chairil Anwar, Maret, 1943

Dalam keadaan yang terjepit, sulit dan tersakiti kita selalu berharap hal tersebut adalah mimpi buruk. Sementara jika sekitar kita yang ada adalah kedamaian, keindahan, kenyamanan yang selalu kita harapkan, kita mungkin tak berharap itu semua hanyalah mimpi walau dalam benak selalu bertanya-tanya, apakah ini hanya mimpi?

Semua indah
Semua … sangat indah…

Sampai dia tadi harus mencubit
lengannya sendiri
untuk

Memastikan bahwa semua ini
nyata, bukan mimpi …

Eh?!

Bukan… Mimpi??!!!

Saya tersenyum membaca bait-bait selanjutnya.

Mereka belum sempat mengisi
rumah dengan banyak
barang
Satu-satunya perabot
yang ada
di dalam rumah kayu itu adalah

~ Ranjang besar berukir ~

Malam pertama adalah malam yang dinantikan setiap pasangan yang baru menikah. Ada banyak rasa yang akan tertumpah dimalam itu. Saya rasa (dan berharap semoga) semuanya adalah perasaan cinta.

Suami di rumahkayu juga be’rencana’ seperti itu sepertinya ;) Menikmati rasa cinta dan terbang ke kahyangan bersama gadis  pasangan hidupnya yang menurutnya seindah daun ilalang.

Bait-bait selanjutnya adalah gambaran perasaan sang suami untuk memastikan bahwa apa yang ia rasakan dan apa yang ia sentuh disekelilingnya adalah bukan mimpi.

Sejak awal hingga akhir puisi ini sebenarnya cukup jelas. Tidak banyak bermain dengan banyak kiasan.  Sesuai dengan bab Kamar, puisi ini jelas arahnya kemana. Tetapi karena dikemas dengan manis puisi ini terasa begitu romantis.

malam pertama

ini malamku dan malammu
kita berpayung harap dan janji
saling senyum silang pandang
usap gugup sapu peluh
ini malam kita bisa romantis

hes. 31 Mei 2004

Saya merasa syahdu.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Category kata / Tags: Tags: , /

Social Networks : Technorati, Stumble it!, Digg, delicious, Google, Twitter, Yahoo, reddit, Blogmarks, Ma.gnolia.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

17 Comments so far

by kuti

On Januari 18, 2010 at 18:05

uhh…

dan saya jadi merinding baca posting ini ;)

by rumahkayu

On Januari 19, 2010 at 00:00

aih hes… selalu… selalu… selalu menyenangkan membaca tulisan dan puisi hes…

btw, jadiiii… malam pertama hes dulu tidak dilalui dengan sang suami (terpaksa) baca buku chairil anwar kan? ha ha ha ha ha…

(aduh, aku ngakak ngakak sendiri nih… bukan apa2, jadi ingat… kenapa ujug2 ada puisi chairil anwar muncul di situ adalah karena sebagai pengantin baru, si istri di rumahkayu begitu gugup dan bingungnya serta ngga tau mau nulis apa ketika itu, ha ha ha ha ha… jadiiiii… daripada salah tingkah, biarlah chairil anwar mengambil alih malam pertama itu, hahahahahahahaha :mrgreen: )

makasih partisipasinya hes… :-) d.~

by anny

On Januari 21, 2010 at 10:18

Indahnya Hes…. :)

by meutias

On Januari 21, 2010 at 10:25

Kerens….sebuah ikatan cinta yang penuh nafas dan aura romantisme yang gak semua pasangan punya, kayaknya harus ditulis di dinding kamar2 pasangan yang nyaris lupa sama komitmen. SUKSES Hes….

by kw

On Januari 21, 2010 at 10:37

yup suka puisi2nya ya…
gudlak ya

by Wicak Hidayat

On Januari 21, 2010 at 11:50

jadi pengen lagi..

.. nulis puisi maksudnya

by vany

On Januari 21, 2010 at 19:07

aih….
indahnya puisi malam pertama… :)
*good luck ya, mbak hes*

by bling bling

On Januari 21, 2010 at 22:37

baca bait2 puisi terakhir.. suer… berasa syahdu banget…

by catatanhati

On Januari 22, 2010 at 16:24

dan aku meunggu waktu ku tiba di berikan Tuhan untuk menikah dan bermalam pertama hehe :)
good luck :)

by Lamunadi

On Januari 24, 2010 at 10:26

Good luck juga yaa …
Salam. 8-)

by melly

On Januari 24, 2010 at 21:56

aduh dah lama gak mampir ke manterakata

[...] Puisi Romantis Dalam Kamar di Rumah Kayu di [...]

[...] Puisi Romantis Dalam Kamar di Rumah Kayu di [...]

by Pemenang Rumah Kayu Writing Contest | Satlaser.com

On Februari 1, 2010 at 13:04

[...] Puisi Romantis Dalam Kamar di Rumah Kayu di [...]

by kuti

On Februari 1, 2010 at 16:03

selamat udah masuk 10 besar kontes ya hes, kami senang sekali atas partisipasinya… ntar kapan2 kalu rumahkayu bikin kontes lagi, ikutan ya? kapan persisnya sih belum tau, mungkin taon depan atau taon depannya, hehehehe…. ;)

by Astaga.com lifestyle on the net

On Februari 7, 2010 at 02:14

Selamat-selamat.
Para pemenang Rumah Kayu memang mempunyai tulisan-tulisan yang hebat.
Cara pandang yang luarbiasa, membuka wawasan.

by ningsih

On Mei 30, 2010 at 10:40

dan aku menunggu kapan waktu itu datang padaku hu hu sungguh skalie…di hidupku

17 Responses to “ Puisi Romantis dalam Kamar di Rumah Kayu ”

By submitting a comment here you grant ManteraKata a perpetual license to reproduce your words and name/web site in attribution. Inappropriate comments will be removed at admin's discretion.


  • Meta

  • Hak Cipta semua tulisan dalam blog Manterakata.blogdetik.com adalah milik masing-masing penulisnya.

    Jika tidak disebutkan maka puisi, cerita, dan review ditulis oleh Hesti Pratiwiafwiani dan Wicak Hidayat.
  • Top of page